Bawaslu Kota Kupang Gandeng Jurnalis Kompas, Hidupkan Berita Pengawasan
|
Bawaslu Kota Kupang – “Menulis bukan sekadar mencatat, tapi juga merawat ingatan.” Kalimat itu disampaikan oleh Ketua Bawaslu Kota Kupang, Adi Nange, saat membuka diskusi bertema penguatan budaya menulis di lingkungan pengawas pemilu. Ia menegaskan bahwa berbagai kegiatan pengawasan yang telah dilakukan harus mulai didokumentasikan dalam bentuk tulisan, agar tidak hilang begitu saja sebagai cerita lisan. Kupang (18/06/2025).
Diskusi yang digelar di Sekretariat Bawaslu Kota Kupang ini menghadirkan jurnalis senior Kompas, Frans Pati Herin, sebagai narasumber. Kegiatan ini menjadi wadah refleksi sekaligus pelatihan untuk membekali para pengawas muda agar lebih siap menulis dan menyampaikan cerita-cerita pengawasan dalam bentuk yang menarik dan bermakna.
Koordinator Divisi Hukum, Pencegahan, Partisipasi Masyarakat dan Hubungan Masyarakat (HP2H), Muhammad Fathuda, turut menekankan bahwa kerja-kerja pengawasan selama ini menyimpan banyak cerita penting. Namun, sebagian besar belum terdokumentasi secara tertulis, padahal sangat layak untuk menjadi informasi publik yang bisa dibaca dengan pendekatan jurnalistik.
Frans Pati Herin, dalam paparannya, mengajak peserta memahami kembali dasar-dasar jurnalistik, seperti pentingnya mengumpulkan informasi berdasarkan unsur 5W + 1H (apa, siapa, kapan, di mana, mengapa, dan bagaimana), hingga menyusun paragraf pertama sebagai benang merah yang kuat dari sebuah berita.
Ia juga menekankan pentingnya kepekaan dalam menangkap momen untuk kebutuhan foto jurnalistik, serta kemampuan menghadirkan “drama” dalam setiap tulisan, tanpa meninggalkan substansi.
“Judul yang baik itu menjawab ‘bagaimana’ dan ‘mengapa’. Paragraf awal harus menarik, langsung pada inti, dan jangan lupa tulisan jurnalistik yang bagus harus punya pesan penutup, bukan sekadar menutup,” jelas Frans.
Diskusi berlangsung interaktif, di mana peserta juga didorong menyampaikan kendala-kendala yang dihadapi saat menulis. Frans menyambut setiap pertanyaan dengan antusias, mulai dari bagaimana menulis straight news yang lugas, hingga feature yang mengandung narasi dan emosi.
Kegiatan ini ditutup oleh Muhammad Fathuda dengan harapan besar bahwa Bawaslu tidak hanya menjadi lembaga pengawas pemilu, tetapi juga mampu menjadi rumah bagi cerita-cerita demokrasi yang ditulis dengan baik. Seperti yang dikatakan dalam forum tersebut:
“Kalau kita tidak menulis cerita kita sendiri, orang lain yang akan menuliskannya dan belum tentu mereka tahu persis apa yang kita perjuangkan.”***
Penulis : Sholly Purba
Foto : Humas Bawaslu Kota Kupang
Editor : Huda